Cinta Dan Bangga Terhadap Satuan

Komisaris Besar Polisi Abu Bakar Tertusi, SIK, lulusan Akademi Kepolisian tahun 1993 saat ini menduduki jabatan sebagai Komandan Resimen II Pasukan Pelopor. Setelah diangkat menduduki jabatan baru itu, tak lama kemudian Beliau mendapatkan kenaikan pangkat satu tingkat lebih tinggi dari AKBP menjadi Kombes. Hal itu bentuk kepercayaan pimpinan yang patut disyukuri. Baginya, Resimen II Pasukan Pelopor merupakan tempat mengenang masa lalu karena beberapa tahun silam pernah mengabdi di Resimen II Pasukan Pelopor yang kala itu bernama Resimen I Korbrimob. Setelah beberapa kali melaksanakan tugas diberbagai wilayah diantaranya Papua, NTT dan Babel, kini kembali dipercaya bertugas di Resimen II Pasukan Pelopor. Untuk meraih itu, tentunya tidaklah mudah, berbagai tantangan dan lika-liku tugas kepolisian telah dilaluinya. Bagaimana pengalaman dan tantangan yang dihadapi Beliau selama bertugas di kepolisian terutama di Korps Brimob Polri. Berikut petikan wawancara selengkapnya.

Sebelum dipercaya menduduki jabatan Danmen II Pasukan Pelopor, Komandan pernah berdinas di Resimen II Pasukan Pelopor. Perubahan apa yang Komandan lihat pada satuan ini?
Setelah saya kembali lagi ke Resimen II Pelopor perubahan pertama yang saya lihat adalah mindset, sikap dan cara pandang anggota yang sudah berbeda. Selain itu, juga sudah didukung fasilitas yang lebih baik. Tahun 2003 lalu, saya pernah dinas di Resimen yang berkedudukan di Kedunghalang Bogor ini, tetapi setelah saya tinggalkan selama 14 tahun sungguh jauh berbeda, terutama cara berpikir dan sikap anggota itu sendiri. Misalnya, soal kebebasan dan pengawasan, dulu anggota tidak semuanya tertampung didalam ksatrian sehingga mereka bebas tinggal diluar yang rentan dengan permasalahan dan itu perlu pengawasan yang lebih. Tetapi, saat ini sebagaian besar anggota sudah tinggal didalam, sementara yang tinggal diluar ksatrian hanya sebagian saja itupun kebanyakan mereka sudah mempunyai rumah sendiri.

Bagaimana tanggapan Komandan tentang Brimob saat ini?
Saya masuk Brimob karena cita-cita, bukan karena ditunjuk. Cita-cita saya dari awal masuk Akpol tidak ada pilihan lain kecuali masuk Brimob dan kebetulan bapak saya adalah seorang anggota Brimob. Brimob saat ini lebih baik dibandingkan dahulu, termasuk dilingkup jajaran Resimen II Pelopor ini. begitu pula Brimob Polda yang juga tidak jauh beda meskipun mencakup tugas di wilayah sendiri termasuk tugas polisi umum. Seperti waktu saya tugas polisi umum, antara polisi umum dan Brimob sudah diatur sesuai poksinya masing- masing. Namun demikian bagi saya Brimoblah yang terbaik, tugas di Brimob bekerja sesuai Tupoksi yang ada.

Prinsip apa yang selalu Komandan pegang dalam memimpin?
Saat saya dipercaya oleh pimpinan, saya berupaya mendorong anggota dapat meraih cita-cita setinggi mungkin. Seperti ketika akan sekolah dan naik pangkat, saya memberikan motivasi kepada anggota dengan menceritakan pengalaman saat saya dipimpin bukan dari lulusan Akpol. Dari situ saya bilang kepada anggota agar tidak putus dengan pangkat yang ada, karena waktu saya menjadi Danki dan Wadanyon pernah dipimpin bukan dari Akpol tetapi bisa. Yang terpenting adalah bagaimana mengikuti aturan dan ketentuan yang ada agar dapat mencapai cita-cita yang diinginkan. Yang mau jadi polisi itu, banyak sedangkan yang diterima itu sedikit, kita yang sudah menjadi anggota polisi jangan menyia-nyiakan itu. selalu ingat bagaimana susahnya masuk anggota polisi, oleh karenanya harus mensyukuri apa yang telah kita raih.

Apa pengalaman tugas Komandan yang paling terkesan?
Pengalaman saya yang paling berkesan saat bertugas di Timor-Timur. Waktu itu saya baru pangkat Letnan Dua, saya ingat dan terniang dikepala meski menurut saya agak konyol. Saat itu, ada perintah dari pimpinan harus berpos dan tidak boleh bergerak malam. Tetapi suatu malam ada anggota SGI (Satuan Gabungan Intelejen) datang ke pos ingin bertemu saya, dia menjelaskan bahwa dia mendapat perintah dari atasannya agar mengirim senjata M16 sebanyak 30 pucuk ke pos yang berada di gunung. Mendengar hal itu, saya hanya terdiam sambil melihat jam tangan, waktu menunjukkan pukul dua malam, padahal perintah pimpinan saat malam hari tidak ada yang keluar pos. Disitu saya berpikir lalu bilang pada anggota SGI itu, kalau mau kita tidak usah membangunkan anggota. Setelah berunding, anggota SGI tersebut menyetujui masing-masing hanya membawa satu anggota untuk menjaga senjata dibelakang. Saya pegang kendali setir sementara Danton dari SGI berada disamping saya hingga akhirnya sampai tujuan dengan selamat dan sesuai rencana. Disinilah saya merasa dulu kok bisa konyol seperti itu, makanya pengalaman ini menjadi pelajaran berharga yang selalu saya ingat.
Pengalaman lain yang saya alami ketika tugas di Papua, saya mempunyai anggota memiliki kebiasaan kurang baik seperti suka minum-minuman keras dan pergaulan bebas. Padahal saya sudah berupaya mengingatkan bahkan mengambil tindakan agar tidak mengulangi perbuatannya tetapi dia tidak berubah sampai akhirnya Ia meninggal karena sakit. Ketika mengantar jenazah ke kampungnya, saya melihat warga banyak menangis. Ternyata Dia satu-satunya anggota Brimob yang kebanggaan dikampungnya. Dari pengalaman itulah saya selalu menyampaikan kepada anggota bahwa kita adalah kebanggaan dari keluarga.
Maka saya terapkan kepada anggota bila ada permasalahan segera bilang ke saya atau ke Danyon masing-masing. Jangan malah bilang ke teman-teman satu angkatan yang akhirnya mengambil tindakan sendiri dan bisa mengakibatkan permasalahan baru. Apapun masalah dan persoalan anggota adalah tanggung jawab saya, itulah tugas saya selaku pimpinan.

Apa harapan Komandan terhadap Korps Brimob yang tugasnya kedepan semakin kompleks?
Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi faktor penentu keberhasilan tugas Brimob, ilmu dan kemampuan yang didapatkan anggota saat pendidikan dapat menunjang tugas kepolisian namun hal itu belumlah cukup maka perlu pelatihan-pelatihan ketika mendapatkan penempatan di satuan. Bila SDM Brimob Polri memadai dengan didukung peralatan dan perlengkapan yang modern, tidak dipungkiri Korps Brimob kedepan semakin profesional, modern dan terpercaya.
Tentunya kita juga tidak segan-segan belajar dari satuan lain, karena tujuan kita sama-sama menjaga keutuhan NKRI. Yang terpenting saat ini adalah dapat mengelola media dengan baik. Bapak Kapolri selalu mengingatkan bahwa media sangat berperan menaikan nama baik Polri itu sendiri.

Apa pesan Komandan untuk Brimob seluruh Indonesia
Sebagai anggota Brimob kita harus bekerja dengan tulus dan ikhlas, serta mencintai dan bangga terhadap satuan ini. Jika tidak, kita tidak akan bekerja dengan baik. Diluar sana banyak yang bangga terhadap Brimob. Saya berharap Brimob Polri yang kita cintai dan banggakan ini bisa menjawab tantangan tugas Polri sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat.*

Related posts